|
 | well, come. | Jun 29, 2005 |
 | RIRA | Sep 29, '11 3:44 AM for everyone |
|  | indo vs laos
|
|  | lampung - jakarta |
Ada 2 kios kecil di Jl. Haji Nawi I yang menjual obat perkasa. Oooh... --
Gara-gara saya punya cemilan krupuk jagung berlapis coklat yang baru saya beli di supermarket penyedia makanan korea, saya terbawa suasana berjalan kaki dari Dharmawangsa Square ke Pondok Indah Mall lagi. Jalan – jalan kali ini murni terbawa suasana. Awalnya, saya pikir hanya akan berjalan ke halte bus. 18:20. Tapi kaki berkehendak lain, saya jadi menyebrangi jalan di depan taman gajah, terus melewati pemukiman lalu tembus sampai jalan pinggir kali lalu bersisian dengan seorang bocah tanggung memakai baju hitam, jeans hitam ketat, beraksesoris kalung dan gelang rantai, tindik sana sini dan selalu saja mengira dirinya sedang mengusung idealisme bernama punk berjalan sempoyongan di pojok jalan Darmawangsa VI. Dia membuat saya menyebrang menjauhi kali lalu masuk ke pemukiman lain. Entah jalan apa, tapi jalan ini ramai sekali. Penjual alat alat listrik, nasi uduk, gorengan tempe dan sebagainya. Orang lalu lalang. Mobil, motor juga. Didepan sebuah gang, motor keluar masuk. Penasaran, saya bertanya pada Pak Ojek di depan gang; ’’ Ini jalan kemana ya Pak?!’’. Dia bilang jalan itu menembus ke Jalan Damai. Tapi jauuuuh sekali. Lalu saya masuk gang yang tembus ke jalan damai. Gang kecil ini juga ramai. Seperti jalan raya khusus motor. Jalan ini tidak pernah sepi. Rumah rumah juga padat di kedua sisinya. Nasib, gak Cuma di jalan besar, ternyata pejalan kaki tetap terpinggirkan di jalan sekecil ini. Tidak sampai 10 menit, sudah sampai jalan Damai. Jalan ini lebih besar. 2 mobil cukup bersisian. Ada yang jual tahu bulat. Oh, tahu juga ada yang bulat. Hore. Tiba-tiba berkabut. Kabut dari asap bakaran sate pinggir jalan. Ooh, heboh bener bakar sate aja! Saya jalan terus. 18:40 Wah, pasar Cipete! Wah, besok pacar ulangtahun! Wah, terasa haus! Wah, sudah Desember! Wah! Saya jalan terus. Jalanan besar blok A lenggang. Tumben. Saya jalan terus. Sampai jalan H. Nawi. Sampai Supermarket. Sampai saya beli air mineral. Wah, 1500 untuk 1 botol 100ml. Biasanya Rp 2000,- sampai Rp 2500,-. Atau Rp. 10.000,- kalau beli di bandara El-Tari Kupang! Saya suka sekali Supermarket ini! 19.00 Jalanan gelap! Rindu! Beli kado apa? Buat apa? Ah sudah Desember! Timor Leste, Januari. Alor? Sulawesi?! 19.10 PIM
Muhammad pergi ke surga menunggangi binatang ajaib Buraq. Dia melihat apa yang disebut surga lalu neraka. Ia kembali ke bumi, menceritakan perjalanan dan pelajaran yang ia dapatkan. Saat itu, beberapa orang ternganga, percaya. Selebihnya terngaga, mencemooh. Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. Selain omongan Muhammad tentang Tuhan. -- Saya sudah siap. Siap dicemooh. -- Tadi malam, saya duduk berdua dua dengan Nicholas Saputra nonton film yang diputar Jiffest. Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. -- Malam kemarin, saya iseng pergi ke Jiffest. Beli tiket nonton lalu beli cemilan dan kembali ke depan pintu theater yang dituju. Nicholas Saputra muncul tiba-tiba, berjalan cepat lalu masuk ruang nonton. Padahal ruang nonton belum dibuka untuk umum. Sekelebatan Nico, membuat cewek cewek yang sedang mengantri bereaksi. Mata berbinar, saling berbisik, senyum lebar dan sebagainya. Reaksi saya? Secara fisik tidak ada, tapi di dalam hati, ada yang bilang begini: iya deh selebriti, bisa punya akses istimewa (hahaha... sirik tanda tak mampu:). 15 menit kemudian, pintu teater dibuka. Saya masuk agak belakang. B8 adalah nomor duduk saya. Mata mencari dan menemukan Nicholas Saputra dengan segera. Sebagai yang paling kinclong sendiri, dia memang mudah ditemukan. Dia duduk di barisan tempat duduk B. Barisan itu sudah penuh, terkecuali satu tempat duduk. Disebelah Nicholas Saputra. Gah... semoga. BUKAN!!!! Dan yak. Saya harus melewati Nicolas, bilang permisi dengan sopan dan duduk di sebelahnya. HIYAAAAAAAAAAA!!!! Bukannya senang, saya jadi susah menelan ludah. Takut jelek. Takut minum, takut jelek. Tunggu, bulu ketek sudah dicukur kan. Kayak Nicho mau liat aja! Tapi kan aku gak mau keliatan seperti Eva Arnaz. Eh, siapa tahu tipenya Nico, tipe Eva Arnaz. Idih. Kaki kiri silangkan di atas kaki kanan. Ah, kayaknya jelek deh posisi duduknya. Ganti. Kaki kanan silangkan di atas kaki kiri. Ah kurang cute, kayaknya. Pentingnya ya liiiiil!!! Haduh kalo gini, cemilan dibeli sia sia deh. Gak pengen ngunyah. Takut ada yang nyelip di gigi trus nanti kalo Nico lihat gimana. Haduuuh, Ulil! TAKUT TUH SAMA TUHAN!!! Lagian, gelap juga!!! Lagian lu juga gak bakal ngomong sama Nico kaliiii!!! Akibatnya, selama 2 jam nonton film, saya pegel! Pegel sama pikiran saya yang aneh-aneh. Pegel gonta ganti gaya duduk. Walaupun sebenernya, paling pegel dengar komentar sekelompok penonton yang duduk di B1 – B7! Oi pengen rasanya teriak... Oi ini bukan di rumah lu sendiri!!!! Kembali, ke permasalahan saksi. Lalu saya berfikir: udah capek capek salting, Nico juga gak peduli dan gak ada bukti untuk membanggakan diri sendiri atau sekedar membuktikan omongan! Aku perlu saksi. Perlu saksi! Ini sama kejadiannya waktu seorang laki-laki bertanya pada saya: ’Mbak Riyani, mau meliput daerah mana, Mbak?!’’ di bandara El-Tari Kupang, NTT. Saya, seperti biasa, bengong dulu sebelum malah bertanya balik: ’’ Maksud, mas?!’’. Lalu dia malah mengulang pertanyaannya yang belum dijawab. Percakapan selanjut memberi tahu saya bahwa dia mengira saya adalah Riyani Jangkaru. Widih. Riyani Jangkaru. Riyani Jangkaru! Ok, gak perlu dramatisir. TAPI SAYA DIKIRA RIYANI JANGKARU!!! Tidak ada saksi. Tidak ada saksi! Dan sebenarnya, kejadian dikira Riyani Jangkaru, pernah juga terjadi di pinggir pantai Gili Trawangan. Padahal saya sedang bersama teman saat itu. Tapi ketika seorang lelaki datang pada saya dengan bertanya; ’’ Mbak Riyani Jangkaru ya?’’, teman saya sedang pergi main air. Nasib. Tidak ada saksi. Tidak ada saksi. Kecuali Tuhan.
:) --
Dharmawangsa Square - PIM? Dasar anak Mol. Ternyata diperlukan tidak lebih dari 30 menit untuk menempuh perjalanan dari Dharmawangsa Square sampai Pondok Indah Mall. Itu tanpa macet tapi diselingi waktu memotret beberapa obyek menarik di sepanjang jalan. Salah satunya adalah Papan Judul Klinik berobat yang menuliskan salah satu keahliannya: Menghapus Susuk. Sayang hasil foto keburu lupa saya transfer ke komputer sementara handphone yang saya gunakan memotret sudah saya jual satu malam setelah kejadian. *Sambil berdoa semoga tidak ada foto anonoh di dalamnya. Amin. Perjalanan kaki ke dua selama projek jalan jalan ah saya luncurkan. Rasanya kalau saya teruskan projek ini, insya allah badan merasa sehat. Pengalaman baru ini memberitahu saya bahwa: 1) Jarak Dharmawangsa – PIM, jauh juga ya... 2) Setelah berjalan jauh, sebaiknya mencari tempat untuk istirahat meluruskan kaki. Karena bila kaki dilipat, lama lama bisa varises lho. 3) Trotoar di sepanjang radio dalam lebih cakep daripada trotoar di sepanjang fatmawati 4) Smashing Pumpkin kok jadi membosankan ya. Faktor Umur kali yah 5) Stasiun Radio di Jakarta yang dulu biasa saya dengar juga terdengar membosankan. Baik dari obrolan penyiarnya atau lagu lagunya. *Kangen Ona Sutra 6) Lagu Indonesia kok liriknya tidak terdengar sambung menyambung dari kalimat ke kalimat. Padahal kalau ditulis, harusnya masih satu paragraf. 7) Sedia Payung. Dalam perjalanan di daerah radio dalam, tiba tiba tik tik bunyi hujan di atas genteng. Argh... sedikit panik tapi tetap pura pura cool di depan kambing yang lagi mengunyah daun kering. Jangan tanya saya kenapa ada kambing di pinggir jalan radio dalam. 8) Badan yang bergerak membuat tidur lebih pulas. Oahm...
Berjalan kaki di Jakarta bisa kena macet juga. Trotoar. Sisi luar jalan raya yang sangat berfungsi untuk dipakai bapak dan ibu berjualan apa saja. Atau parkir motor. Juga jalur laju motor baik melawan atau mengikuti arus lalu lintas. Dan tidak lupa, trotoar adalah tempat buang sampah. Trotoar. Untuk pejalan kaki berjalan kaki. Sayang sampai hari ini penggunaannya belum bisa menuaikan fungsinya 100%. Tapi nanti, suatu saat, saya yakin trotoar akan menjadi trotoar sebenar-benarnya. Harapan selalu ada. Di depan DBest Fatmawati. Lampu lalu lintas sedang merah. Saya yang sedang berjalan kaki turut harus berhenti. Lahan sisa antara antrian mobil dan trotoar yang penuh juga dipenuhi puluhan motor. Absurd. Setelah beberapa menit senyum-senyum melihat perkembangan pikiran di kepala mengenai jakarta dan embel embelnya, saya memutuskan mencolek seorang mas pengendara motor terdekat. Colek colek. Saya: '' Mas, permisi lho. Geser sedikit ''. Di balik helm tanpa perisai, dia tampak kaget. Pencolekan tiba-tiba berbuah senyum dan permintaan maaf dari mas pengendara. Dia lalu memiringkan motornya untuk memberi saya tempat melangkah. Begitupun mas pengendara di samping kirinya dan kirinya lagi. Berjalan kaki dari daerah Dharmawangsa sampai ke Dbest Fatmawati malam lalu memberi saya banyak pengetahuan. 1. Ada supermarket khusus makanan korea yang menjual es krim bermerek lotte dengan ragam rasa yang menggiurkan. Saya mencoba rasa kopi. Seharga 6000 untuk rasa bernilai selangit. Hadoooh enak banget. Besok, mau coba yang karamel! 2. Jalur pejalan kaki sepanjang blok A sampai ke Dbest Fatmawati perlu operasi plastik! Banyak bolong, terkuak, bergelombang, dan tinggal sedikit yang masih bisa berfungsi sebagai jalur jalan. 3. Jangan lupa bawa kaca spion. Karena bila terpaksa tidak bisa melangkah lagi di trotoar, pejalan harus turun ke jalan raya. Hati-hati terhadap motor yang hobi nyelip atau melaju tanpa rem. Kalau berjalan sambil menikmati wolvemother dari ipod, sebaiknya di pause dulu aja supaya pendengaran fokus pada keadaan jalan. Daripada keserempet ya gak.Kalo gak punya kaca? Yah... sering-seringlah menengok ke belakang. Degup jantung menjadi cepat, itu biasa! Kalau belum biasa? Ya teriak in aja motor-motor yang ugal-ugalan itu. Nanti juga lama-lama capek dan terbiasa. 4. Setelah Itc Fatmawati ada toko peralatan rumah namanya mitra 10 di depan index! Saya senang sekali mengetahui fakta ini. Karena dibanding index yang megah, Mitra 10 cukup berkualitas dan murah! Lucu juga, seperti melihat si kaya dan si miskin hidup rukun berseberanganJ yang kaya tetap kaya yang miskin juga teteeeup. Lucu haha. 5. Setelah ITC fatmawati ada refleksi seluruh tubuh. Menggiurkan. 6. Perjalanan kaki dari Dharmawangsa sampai Dbest Fatmawati hanya membutuhkan waktu 30 menit. Sementara bus patas 76 yang sedang terjebak macet di darmawangsa belum juga tiba. 7. Banyak restoran menarik di sepanjang jalan. 8. Berjalan kaki berhasil membuat tubuh saya mengeluarkan keringat. Yang terpenting membuat perut saya kempes. Yang ini baru harapan berupa doktrinisasi. Belum aktual. Belum berarti akan. Ya! Optimis! Projek perdana ini, akan saya lanjutkan dengan rute lain! Bersama kamera dan ipod! Amin.
lagi dimana?
di kawinan best friend gw
o yang di australia itu
bukan. ini yang satunya lagi.
eeeng... lu ngerti kan konsep best friend?
Pagi ini, seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, saya bangun terlambat, buru2, ketuk kamar adik, minta antar ke kantor. Pagi ini, tidak seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, adik saya tidak ada di kamarnya dan tidak ada di mana mana. Dia hilang. Tidak bilang bilang. Bah. Akibatnya: harus buru buru ganti baju (karena terlanjur pake sepan) dan setengah berlari ke Pak Becak lalu membuat Pak Becak setengah mati berusaha ngebut ke pangkalan ojek.
Di pangkalan ojek: Seorang Pak Ojek menyambut. Saya merasa jadi tongkat estafet. Tapi estafet harus dihentikan sebentar. Pak Ojek harus meminjam helm pada para pesaing yang bermuka asem ( mungkin sambil membatin, '' huh, udah bukan gw yang dapet, helm gw mau lo ambil juga. hah!). Para pesaing tidak memberinya dukungan. Kejamnya bisnis. 1 menit terbuang, Pak Ojek kembali pada saya dengan tangan kosong. Lalu dia bilang, '' Ayo neng, gak usah pakai helm aja. Saya yang tanggung jawab!"
Saya : Kalo saya jatuh? Pak : Saya yang tanggung jawab Saya : Kalo saya mati? Pak : Saya yang tanggung jawab Saya : Yah saya udah mati duluan, Pak.
Dia terdiam. Lalu balik badan, mencoba mencari pinjaman helm sekali lagi.
Let's make movie where you and I are the stars Only us for the whole 90 minutes Let's make movie Where you and I tell stories Of how your lip piercing glued to my eyes While those eyes of mine, you said, been haunting you Reff Let's make movie Just you and I Let's make movie where you and I giggle over dumb dumb conversation about where ducks in the lake go when winter comes* or where you and I cry over thoughts of Neil’s son’s sad eye loosing his dog Reff Let's make movie
Just you and I Let's make movie Let's make movie Let's make movie Just you and I
Let's make movie Where you and I decide to try to stop being together Let's make movie Where you and I decide to try to stop not to be together Just you and I * J.D Salinger
 | gigs | Jun 22, '10 1:46 PM for everyone |
 | wow | Mar 15, '10 1:20 AM for everyone |
It was java jazz first night. A friend asked; are you coming? A surprise answer came rushing out: not interested. She curled her eyebrows up. Ditto. '' Nothing personal, java jazz: I went to you once. I liked you. I do like jazz, you. Although it’s not my favourite above all. no offense as I never really have favourites on things.'' So. Anyway. I could have gone just for being in the crowd. Be cultural. Be in today’s event. And just for, friends hipping. -- A friend buzzed me, hi and bye. Oscar is on. I said ok. I moved to nowhere. My bum glued to my chair and I continued to Google Indonesia documentary community. -- Camera obscura is coming. I like them enough. But not enough to go to their concert. Wew, do I need any reasons? Years back, I never obliged myself to have enough reasons to go to concert. I like concert. And that always has been an enough reason. -- I’m not so much of a group person anymore. Yet, of course, not to sound as a big loner in the world, I won’t mind being in a group. Once in a whileJ. -- I still fancy exhibitions. I still like aksara. I still into music. Although they are not always today’s music. I just heard about the apartment, a week ago. Uhum, me, the-so-last-year girl. I never have been to BBs. Definitely failed to have eagerness to go. Till today. -- Mall gives me headache. -- People choose their blackberries over other people. I am used to be the left over blackberries. My good friends said to me one day (their eyes staring to my old blue nokia): we're feeling obligated to buy you a blackberry. I really hope they were only mocking me up while missing eyes to eyes conversation between them. -- Failed to be connected to the same conversation among the same people i used to connect with. Found it weird. Found it ok. Found it I have had let this be. Shrugs with big smile. -- Wow. What day is it today?
recommendations, pleaasssseeeee
thx in advance...
|  | and how to turn it to first class experiences:
|
|  | 1 how I ignore you 2 how I ignore you 9 how could I lie
10 under the dancing green light You me dancing how high we were on nothing You caught me Really
11 upon you, wishes you had me had you questions answers U-'n-I-verse all wishing on wishes voiceless desires polluting the air
12 we were gone, nameless
0
|
|  | S’io credesse che mia risposta fosse A persona che mai tornasse al mondo, Questa fiamma staria senza piu scosse. Ma perciocche giammai di questo fondo Non torno vivo alcun, s’i’odo il vero, Senza tema d’infamia ti rispondo. LET us go then, you and I, When the evening is spread out against the sky Like a patient etherised upon a table; Let us go, through certain half-deserted streets, The muttering retreats Of restless nights in one-night cheap hotels And sawdust restaurants with oyster-shells: Streets that follow like a tedious argument Of insidious intent To lead you to an overwhelming question … Oh, do not ask, “What is it?” Let us go and make our visit. In the room the women come and go Talking of Michelangelo. The yellow fog that rubs its back upon the window-panes, The yellow smoke that rubs its muzzle on the window-panes Licked its tongue into the corners of the evening, Lingered upon the pools that stand in drains, Let fall upon its back the soot that falls from chimneys, Slipped by the terrace, made a sudden leap, And seeing that it was a soft October night, Curled once about the house, and fell asleep. And indeed there will be time For the yellow smoke that slides along the street, Rubbing its back upon the window-panes; There will be time, there will be time To prepare a face to meet the faces that you meet; There will be time to murder and create, And time for all the works and days of hands That lift and drop a question on your plate; Time for you and time for me, And time yet for a hundred indecisions, And for a hundred visions and revisions, Before the taking of a toast and tea. In the room the women come and go Talking of Michelangelo. And indeed there will be time To wonder, “Do I dare?” and, “Do I dare?” Time to turn back and descend the stair, With a bald spot in the middle of my hair— [They will say: “How his hair is growing thin!”] My morning coat, my collar mounting firmly to the chin, My necktie rich and modest, but asserted by a simple pin— [They will say: “But how his arms and legs are thin!”] Do I dare Disturb the universe? In a minute there is time For decisions and revisions which a minute will reverse. For I have known them all already, known them all:— Have known the evenings, mornings, afternoons, I have measured out my life with coffee spoons; I know the voices dying with a dying fall Beneath the music from a farther room. So how should I presume? And I have known the eyes already, known them all— The eyes that fix you in a formulated phrase, And when I am formulated, sprawling on a pin, When I am pinned and wriggling on the wall, Then how should I begin To spit out all the butt-ends of my days and ways? And how should I presume? And I have known the arms already, known them all— Arms that are braceleted and white and bare [But in the lamplight, downed with light brown hair!] It is perfume from a dress That makes me so digress? Arms that lie along a table, or wrap about a shawl. And should I then presume? And how should I begin? . . . . . Shall I say, I have gone at dusk through narrow streets And watched the smoke that rises from the pipes Of lonely men in shirt-sleeves, leaning out of windows?… I should have been a pair of ragged claws Scuttling across the floors of silent seas. . . . . . And the afternoon, the evening, sleeps so peacefully! Smoothed by long fingers, Asleep … tired … or it malingers, Stretched on the floor, here beside you and me. Should I, after tea and cakes and ices, Have the strength to force the moment to its crisis? But though I have wept and fasted, wept and prayed, Though I have seen my head [grown slightly bald] brought in upon a platter, I am no prophet—and here’s no great matter; I have seen the moment of my greatness flicker, And I have seen the eternal Footman hold my coat, and snicker, And in short, I was afraid. And would it have been worth it, after all, After the cups, the marmalade, the tea, Among the porcelain, among some talk of you and me, Would it have been worth while, To have bitten off the matter with a smile, To have squeezed the universe into a ball To roll it toward some overwhelming question, To say: “I am Lazarus, come from the dead, Come back to tell you all, I shall tell you all”— If one, settling a pillow by her head, Should say: “That is not what I meant at all. That is not it, at all.” And would it have been worth it, after all, Would it have been worth while, After the sunsets and the dooryards and the sprinkled streets, After the novels, after the teacups, after the skirts that trail along the floor— And this, and so much more?— It is impossible to say just what I mean! But as if a magic lantern threw the nerves in patterns on a screen: Would it have been worth while If one, settling a pillow or throwing off a shawl, And turning toward the window, should say: “That is not it at all, That is not what I meant, at all.” . . . . . No! I am not Prince Hamlet, nor was meant to be; Am an attendant lord, one that will do To swell a progress, start a scene or two, Advise the prince; no doubt, an easy tool, Deferential, glad to be of use, Politic, cautious, and meticulous; Full of high sentence, but a bit obtuse; At times, indeed, almost ridiculous— Almost, at times, the Fool. I grow old … I grow old … I shall wear the bottoms of my trousers rolled. Shall I part my hair behind? Do I dare to eat a peach? I shall wear white flannel trousers, and walk upon the beach. I have heard the mermaids singing, each to each. I do not think that they will sing to me. I have seen them riding seaward on the waves Combing the white hair of the waves blown back When the wind blows the water white and black. We have lingered in the chambers of the sea By sea-girls wreathed with seaweed red and brown Till human voices wake us, and we drown. By T.S. Eliot
--
To T.S. Eliot:
|
Pemalu apa pamali Tukang palu dan Pak Mali apa berdua dua di tengah kebun keringat ingat istri dan anak di batu sangkar tak tahu yang sedang dua dua diam diam, si Tukang palu dan Pak Mali
 | Guestbook | |
 | Hope you have a great day, and a blessed year. Happy birthday .. :) |
 | mbak uliiiiiiil.. apa kabar? |
 | hai ulil... thanks udah add aku.. salam kenal ya.. :) |
 | Thanks dah visit ya... Next give comment ya... |
 | met ultah ... panjang umur n makin sukses. Amien |
 | NEW ARRIVAL DRESS, MINI DRESS,ATASAN,DLL... MAMPIR YUK... THANKS:) |
 | Happy (super) belated birthday :) |
 | uliiiiiil...thx makan siangnya ya...selamaaaaaat... |
 | darliiiiiiiiiiinngggg... Hepi bday to youuuuu... met ultah.. muaahhh..   |
 | Nambah Nih Yeeeeeeee :p Selamat ya bu :D |
 | UliiiiiiiiiiiiiL... I AM your stepdaughter!!! u-uh... |
 | menarik isi rumahnya.... met kenal.. |
 | Apakabar Ulil.... makasih dah d appv ya.... salam |
|