Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Photo AlbumRIRASep 29, '11 3:44 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd




Photo Albumho ho ho so last yearJan 28, '11 12:25 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
indo vs laos



Photo Albumboat trip with familyJan 28, '11 12:17 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
lampung - jakarta

Blog EntryDec 2, '10 1:57 AM
for everyone

 

Ada 2 kios kecil di Jl. Haji Nawi I yang menjual obat perkasa. Oooh... 

-- 


Gara-gara saya punya cemilan krupuk jagung berlapis coklat yang baru saya beli di supermarket penyedia makanan korea, saya terbawa suasana berjalan kaki dari Dharmawangsa Square ke Pondok Indah Mall lagi.

 

Jalan – jalan kali ini murni terbawa suasana.

 

Awalnya, saya pikir hanya akan berjalan ke halte bus. 18:20. Tapi kaki berkehendak lain, saya jadi menyebrangi jalan di depan taman gajah, terus melewati pemukiman lalu tembus sampai jalan pinggir kali lalu bersisian dengan seorang bocah tanggung memakai baju hitam, jeans hitam ketat, beraksesoris kalung dan gelang rantai, tindik sana sini dan selalu saja mengira dirinya sedang mengusung idealisme bernama punk berjalan sempoyongan di pojok jalan Darmawangsa VI. Dia membuat saya menyebrang menjauhi kali lalu masuk ke pemukiman lain. Entah jalan apa, tapi jalan ini ramai sekali. Penjual alat alat listrik, nasi uduk, gorengan tempe dan sebagainya. Orang lalu lalang. Mobil, motor juga.

 

Didepan sebuah gang, motor keluar masuk. Penasaran, saya bertanya pada Pak Ojek di depan gang; ’’ Ini jalan kemana ya Pak?!’’.

Dia bilang jalan itu menembus ke Jalan Damai. Tapi jauuuuh sekali.

 

Lalu saya masuk gang yang tembus ke jalan damai. Gang kecil ini juga ramai. Seperti jalan raya khusus motor. Jalan ini tidak pernah sepi. Rumah rumah juga padat di kedua sisinya. Nasib, gak Cuma di jalan besar, ternyata pejalan kaki tetap terpinggirkan di jalan sekecil ini.

 

Tidak sampai 10 menit, sudah sampai jalan Damai. Jalan ini lebih besar. 2 mobil cukup bersisian. Ada yang jual tahu bulat. Oh, tahu juga ada yang bulat. Hore. Tiba-tiba berkabut. Kabut dari asap bakaran sate pinggir jalan. Ooh, heboh bener bakar sate aja!

 

Saya jalan terus. 18:40

Wah, pasar Cipete! Wah, besok pacar ulangtahun! Wah, terasa haus! Wah, sudah Desember! Wah!

 

Saya jalan terus.

Jalanan besar blok A lenggang. Tumben. Saya jalan terus. Sampai jalan H. Nawi. Sampai Supermarket. Sampai saya beli air mineral. Wah, 1500 untuk 1 botol 100ml. Biasanya Rp 2000,- sampai Rp 2500,-. Atau Rp. 10.000,- kalau beli di bandara El-Tari Kupang! Saya suka sekali Supermarket ini!

 

19.00 Jalanan gelap! Rindu! Beli kado apa? Buat apa? Ah sudah Desember! Timor Leste, Januari. Alor? Sulawesi?!

 

19.10 PIM

 


Blog EntryNov 29, '10 10:40 PM
for everyone


Muhammad pergi ke surga menunggangi binatang ajaib Buraq. Dia melihat apa yang disebut surga lalu neraka. Ia kembali ke bumi, menceritakan perjalanan dan pelajaran yang ia dapatkan.

Saat itu, beberapa orang ternganga, percaya. Selebihnya terngaga, mencemooh. Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. Selain omongan Muhammad tentang Tuhan.

--

Saya sudah siap.

Siap dicemooh.

-- 

Tadi malam, saya duduk berdua dua dengan Nicholas Saputra nonton film yang diputar Jiffest.

Tidak ada saksi. Tidak ada bukti. 

-- 

Malam kemarin, saya iseng pergi ke Jiffest. Beli tiket nonton lalu beli cemilan dan kembali ke depan pintu theater yang dituju. Nicholas Saputra muncul tiba-tiba, berjalan cepat lalu masuk ruang nonton. Padahal ruang nonton belum dibuka untuk umum. Sekelebatan Nico, membuat cewek cewek yang sedang mengantri bereaksi. Mata berbinar, saling berbisik, senyum lebar dan sebagainya. Reaksi saya? Secara fisik tidak ada, tapi di dalam hati, ada yang bilang begini: iya deh selebriti, bisa punya akses istimewa (hahaha... sirik tanda tak mampu:).

 

15 menit kemudian, pintu teater dibuka. Saya masuk agak belakang. B8 adalah nomor duduk saya. Mata mencari dan menemukan Nicholas Saputra dengan segera. Sebagai yang paling kinclong sendiri, dia memang mudah ditemukan. Dia duduk di barisan tempat duduk B. Barisan itu sudah penuh, terkecuali satu tempat duduk. Disebelah Nicholas Saputra. Gah... semoga. BUKAN!!!!

 

Dan yak. Saya harus melewati Nicolas, bilang permisi dengan sopan dan duduk di sebelahnya.

HIYAAAAAAAAAAA!!!!

 

Bukannya senang, saya jadi susah menelan ludah. Takut jelek. Takut minum, takut jelek. Tunggu, bulu ketek sudah dicukur kan. Kayak Nicho mau liat aja! Tapi kan aku gak mau keliatan seperti Eva Arnaz. Eh, siapa tahu tipenya Nico, tipe Eva Arnaz. Idih. Kaki kiri silangkan di atas kaki kanan. Ah, kayaknya jelek deh posisi duduknya. Ganti. Kaki kanan silangkan di atas kaki kiri.

Ah kurang cute, kayaknya. Pentingnya ya liiiiil!!! Haduh kalo gini, cemilan dibeli sia sia deh. Gak pengen ngunyah. Takut ada yang nyelip di gigi trus nanti kalo Nico lihat gimana. Haduuuh, Ulil! TAKUT TUH SAMA TUHAN!!! Lagian, gelap juga!!! Lagian lu juga gak bakal ngomong sama Nico kaliiii!!!

 

Akibatnya, selama 2 jam nonton film, saya pegel! Pegel sama pikiran saya yang aneh-aneh. Pegel gonta ganti gaya duduk. Walaupun sebenernya, paling pegel dengar komentar sekelompok penonton yang duduk di B1 – B7! Oi pengen rasanya teriak... Oi ini bukan di rumah lu sendiri!!!!

 

Kembali, ke permasalahan saksi. Lalu saya berfikir: udah capek capek salting, Nico juga gak peduli dan gak ada bukti untuk membanggakan diri sendiri atau sekedar membuktikan omongan!

 

Aku perlu saksi. Perlu saksi!

 

Ini sama kejadiannya waktu seorang laki-laki bertanya pada saya: ’Mbak Riyani, mau meliput daerah mana, Mbak?!’’ di bandara El-Tari Kupang, NTT. Saya, seperti biasa, bengong dulu sebelum malah bertanya balik: ’’ Maksud, mas?!’’. Lalu dia malah mengulang pertanyaannya yang belum dijawab. Percakapan selanjut memberi tahu saya bahwa dia mengira saya adalah Riyani Jangkaru. Widih. Riyani Jangkaru. Riyani Jangkaru! Ok, gak perlu dramatisir. TAPI SAYA DIKIRA RIYANI JANGKARU!!!

 

Tidak ada saksi. Tidak ada saksi!

 

Dan sebenarnya, kejadian dikira Riyani Jangkaru, pernah juga terjadi di pinggir pantai Gili Trawangan. Padahal saya sedang bersama teman saat itu. Tapi ketika seorang lelaki datang pada saya dengan bertanya; ’’ Mbak Riyani Jangkaru ya?’’, teman saya sedang pergi main air. Nasib.

Tidak ada saksi. Tidak ada saksi. 

Kecuali Tuhan. 


:)

 --

 


Blog EntryNov 26, '10 5:47 AM
for everyone


Dharmawangsa Square - PIM? Dasar anak Mol.

Ternyata diperlukan tidak lebih dari 30 menit untuk menempuh perjalanan dari Dharmawangsa Square sampai Pondok Indah Mall. Itu tanpa macet tapi diselingi waktu memotret beberapa obyek menarik di sepanjang jalan. Salah satunya adalah Papan Judul Klinik berobat yang menuliskan salah satu keahliannya: Menghapus Susuk.

Sayang hasil foto keburu lupa saya transfer ke komputer sementara handphone yang saya gunakan memotret sudah saya jual satu malam setelah kejadian. *Sambil berdoa semoga tidak ada foto anonoh di dalamnya. Amin.

Perjalanan kaki ke dua selama projek jalan jalan ah saya luncurkan.

Rasanya kalau saya teruskan projek ini, insya allah badan merasa sehat.

Pengalaman baru ini memberitahu saya bahwa:

1) Jarak Dharmawangsa – PIM, jauh juga ya...  

2) Setelah berjalan jauh, sebaiknya mencari tempat untuk istirahat meluruskan kaki. Karena bila kaki dilipat, lama lama bisa varises lho.

3) Trotoar di sepanjang radio dalam lebih cakep daripada trotoar di sepanjang fatmawati

4) Smashing Pumpkin kok jadi membosankan ya. Faktor Umur kali yah

5) Stasiun Radio di Jakarta yang dulu biasa saya dengar juga terdengar membosankan. Baik dari obrolan penyiarnya atau lagu lagunya. *Kangen Ona Sutra

6) Lagu Indonesia kok liriknya tidak terdengar sambung menyambung dari kalimat ke kalimat. Padahal kalau ditulis, harusnya masih satu paragraf.

7) Sedia Payung. Dalam perjalanan di daerah radio dalam, tiba tiba tik tik bunyi hujan di atas genteng. Argh... sedikit panik tapi tetap pura pura cool di depan kambing yang lagi mengunyah daun kering. Jangan tanya saya kenapa ada kambing di pinggir jalan radio dalam.

8) Badan yang bergerak membuat tidur lebih pulas. Oahm...

 


Blog EntryNov 23, '10 10:25 PM
for everyone


Berjalan kaki di Jakarta bisa kena macet juga.

 

Trotoar. Sisi luar jalan raya yang sangat berfungsi untuk dipakai bapak dan ibu berjualan apa saja. Atau parkir motor. Juga jalur laju motor baik melawan atau mengikuti arus lalu lintas. Dan tidak lupa, trotoar adalah tempat buang sampah. Trotoar. Untuk pejalan kaki berjalan kaki. Sayang sampai hari ini penggunaannya belum bisa menuaikan fungsinya 100%. Tapi nanti, suatu saat, saya yakin trotoar akan menjadi trotoar sebenar-benarnya. Harapan selalu ada.

Di depan DBest Fatmawati. Lampu lalu lintas sedang merah. Saya yang sedang berjalan kaki turut harus berhenti. Lahan sisa antara antrian mobil dan trotoar yang penuh juga dipenuhi puluhan motor. Absurd. Setelah beberapa menit senyum-senyum melihat perkembangan pikiran di kepala mengenai jakarta dan embel embelnya, saya memutuskan mencolek seorang mas pengendara motor terdekat.

Colek colek.

Saya: '' Mas, permisi lho. Geser sedikit ''.

Di balik helm tanpa perisai, dia tampak kaget. Pencolekan tiba-tiba berbuah senyum dan permintaan maaf dari mas pengendara. Dia lalu memiringkan motornya untuk memberi saya tempat melangkah. Begitupun mas pengendara di samping kirinya dan kirinya lagi.

Berjalan kaki dari daerah Dharmawangsa sampai ke Dbest Fatmawati malam lalu memberi saya banyak pengetahuan.

1. Ada supermarket khusus makanan korea yang menjual es krim bermerek lotte dengan ragam rasa yang menggiurkan. Saya mencoba rasa kopi. Seharga 6000 untuk rasa bernilai selangit. Hadoooh enak banget. Besok, mau coba yang karamel!

2. Jalur pejalan kaki sepanjang blok A sampai ke Dbest Fatmawati perlu operasi plastik! Banyak bolong, terkuak, bergelombang, dan tinggal sedikit yang masih bisa berfungsi sebagai jalur jalan.

3. Jangan lupa bawa kaca spion. Karena bila terpaksa tidak bisa melangkah lagi di trotoar, pejalan harus turun ke jalan raya. Hati-hati terhadap motor yang hobi nyelip atau melaju tanpa rem. Kalau berjalan sambil menikmati wolvemother dari ipod, sebaiknya di pause dulu aja supaya pendengaran fokus pada keadaan jalan. Daripada keserempet ya gak.Kalo gak punya kaca? Yah... sering-seringlah menengok ke belakang. Degup jantung menjadi cepat, itu biasa! Kalau belum biasa? Ya teriak in aja motor-motor yang ugal-ugalan itu. Nanti juga lama-lama capek dan terbiasa.

4. Setelah Itc Fatmawati ada toko peralatan rumah namanya mitra 10 di depan index! Saya senang sekali mengetahui fakta ini. Karena dibanding index yang megah, Mitra 10 cukup berkualitas dan murah! Lucu juga, seperti melihat si kaya dan si miskin hidup rukun berseberanganJ yang kaya tetap kaya yang miskin juga teteeeup. Lucu haha.

5. Setelah ITC fatmawati ada refleksi seluruh tubuh. Menggiurkan.

6. Perjalanan kaki dari Dharmawangsa sampai Dbest Fatmawati hanya membutuhkan waktu 30 menit. Sementara bus patas 76 yang sedang terjebak macet di darmawangsa belum juga tiba.

7. Banyak restoran menarik di sepanjang jalan.

8. Berjalan kaki berhasil membuat tubuh saya mengeluarkan keringat. Yang terpenting membuat perut saya kempes. Yang ini baru harapan berupa doktrinisasi. Belum aktual. Belum berarti akan.

Ya! Optimis!

Projek perdana ini, akan saya lanjutkan dengan rute lain! Bersama kamera dan ipod!

Amin.

 

 


Blog EntryOct 15, '10 11:26 AM
for everyone

lagi dimana?

di kawinan best friend gw

o yang di australia itu

bukan. ini yang satunya lagi.

eeeng... lu ngerti kan konsep best friend?



Blog EntryOct 15, '10 11:14 AM
for everyone


Pagi ini, seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, saya bangun terlambat, buru2, ketuk kamar adik, minta antar ke kantor. Pagi ini, tidak seperti pagi kemarin dan kemarinnya lagi, adik saya tidak ada di kamarnya dan tidak ada di mana mana. Dia hilang. Tidak bilang bilang. Bah. Akibatnya: harus buru buru ganti baju (karena terlanjur pake sepan) dan setengah berlari ke Pak Becak lalu membuat Pak Becak setengah mati berusaha ngebut ke pangkalan ojek.

Di pangkalan ojek: Seorang Pak Ojek menyambut. Saya merasa jadi tongkat estafet.
Tapi estafet harus dihentikan sebentar. Pak Ojek harus meminjam helm pada para pesaing yang bermuka asem ( mungkin sambil membatin, '' huh, udah bukan gw yang dapet, helm gw mau lo ambil juga. hah!). Para pesaing tidak memberinya dukungan. Kejamnya bisnis. 1 menit terbuang, Pak Ojek kembali pada saya dengan tangan kosong. Lalu dia bilang, '' Ayo neng, gak usah pakai helm aja. Saya yang tanggung jawab!"

Saya   : Kalo saya jatuh?
Pak     : Saya yang tanggung jawab
Saya   : Kalo saya mati?
Pak     : Saya yang tanggung jawab
Saya   : Yah saya udah mati duluan, Pak. 

Dia terdiam.
Lalu balik badan, mencoba mencari pinjaman helm sekali lagi.



Blog EntryJul 22, '10 8:37 AM
for everyone

Let's make movie

where you and I are the stars

Only us for the whole 90 minutes

 

Let's make movie

Where you and I tell stories

Of how your lip piercing glued to my eyes

While those eyes of mine, you said,

been haunting you

 

Reff 

Let's make movie

Just you and I

 

Let's make movie

where you and I giggle over

dumb dumb conversation about where

ducks in the lake go when winter comes*

or where you and I cry over

thoughts of Neil’s son’s sad eye loosing his dog

 

Reff

Let's make movie

Just you and I

 

Let's make movie
Let's
make movie

Let's make movie

Just you and I



Let's make movie

Where you and I decide to try to stop being together

 

Let's make movie

Where you and I decide to try to stop not to be together

Just you and I

 

 

* J.D Salinger


Photo Albumfound pinkish landJul 14, '10 11:09 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo AlbumgigsJun 22, '10 1:46 PM
for everyone

Photo Albumjangan anggap remeh indonesiaJun 22, '10 9:07 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Photo Albuma bliss of bath and so i drownedJun 22, '10 8:16 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Have I been nice?
What makes me deserve the universe?

Or have I been bad?
For I deserve being deceived by the beauty of universe
That bad?

A witch once told me a secret
She said, let them be for what they meant to be
She left the unsaid - drink up the poison

--
http://www.thebestof.co.uk/local/bath/business-guide/feature/thermae-bath-spa/62899

http://en.wikipedia.org/wiki/Bath,_Somerset



Blog EntryMar 15, '10 1:20 AM
for everyone

It was java jazz first night. A friend asked; are you coming?

A surprise answer came rushing out: not interested.

She curled her eyebrows up. Ditto.

'' Nothing personal, java jazz: I went to you once. I liked you. I do like jazz, you. Although it’s not my favourite above all. no offense as I never really have favourites on things.'' So. Anyway. I could have gone just for being in the crowd. Be cultural. Be in today’s event. And just for, friends hipping. 

--

A friend buzzed me, hi and bye. Oscar is on. I said ok. I moved to nowhere. My bum glued to my chair and I continued to Google Indonesia documentary community.

--

Camera obscura is coming. I like them enough. But not enough to go to their concert. Wew, do I need any reasons? Years back, I never obliged myself to have enough reasons to go to concert. I like concert. And that always has been an enough reason.

--

I’m not so much of a group person anymore. Yet, of course, not to sound as a big loner in the world, I won’t mind being in a group. Once in a whileJ.

--

I still fancy exhibitions. I still like aksara. I still into music. Although they are not always today’s music. I just heard about the apartment, a week ago. Uhum, me, the-so-last-year girl. I never have been to BBs. Definitely failed to have eagerness to go. Till today.

--

Mall gives me headache.

--

People choose their blackberries over other people. I am used to be the left over blackberries. My good friends said to me one day (their eyes staring to my old blue nokia): we're feeling obligated to buy you a blackberry.

I really hope they were only mocking me up while missing eyes to eyes conversation between them.

-- 

Failed to be connected to the same conversation among the same people i used to connect with. Found it weird. Found it ok. Found it I have had let this be. Shrugs with big smile.

--

Wow. What day is it today?

 

 


Blog EntryJan 11, '10 11:08 AM
for everyone

recommendations, pleaasssseeeee


thx in advance...







Photo Albumhow to have a break in budgetJan 10, '10 9:41 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
and how to turn it to first class experiences:

Photo Albuman island life for 12 daysJan 8, '10 11:47 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
1
how I ignore you
2
how I ignore you
9
how could I lie

10
under the dancing green light
You me dancing
how high we were on nothing
You caught me
Really

11
upon you, wishes
you had me had you
questions answers
U-'n-I-verse all
wishing on wishes
voiceless desires polluting the air

12
we were gone, nameless

0



Photo AlbumThe Love Song of J. Alfred PrufrockJan 7, '10 9:22 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd


S’io credesse che mia risposta fosse
A persona che mai tornasse al mondo,
Questa fiamma staria senza piu scosse.
Ma perciocche giammai di questo fondo
Non torno vivo alcun, s’i’odo il vero,
Senza tema d’infamia ti rispondo.


LET us go then, you and I,
When the evening is spread out against the sky
Like a patient etherised upon a table;
Let us go, through certain half-deserted streets,
The muttering retreats
Of restless nights in one-night cheap hotels
And sawdust restaurants with oyster-shells:
Streets that follow like a tedious argument
Of insidious intent
To lead you to an overwhelming question …
Oh, do not ask, “What is it?”
Let us go and make our visit.

In the room the women come and go
Talking of Michelangelo.

The yellow fog that rubs its back upon the window-panes,
The yellow smoke that rubs its muzzle on the window-panes
Licked its tongue into the corners of the evening,
Lingered upon the pools that stand in drains,
Let fall upon its back the soot that falls from chimneys,
Slipped by the terrace, made a sudden leap,
And seeing that it was a soft October night,
Curled once about the house, and fell asleep.

And indeed there will be time
For the yellow smoke that slides along the street,
Rubbing its back upon the window-panes;
There will be time, there will be time
To prepare a face to meet the faces that you meet;
There will be time to murder and create,
And time for all the works and days of hands
That lift and drop a question on your plate;
Time for you and time for me,
And time yet for a hundred indecisions,
And for a hundred visions and revisions,
Before the taking of a toast and tea.

In the room the women come and go
Talking of Michelangelo.

And indeed there will be time
To wonder, “Do I dare?” and, “Do I dare?”
Time to turn back and descend the stair,
With a bald spot in the middle of my hair—
[They will say: “How his hair is growing thin!”]
My morning coat, my collar mounting firmly to the chin,
My necktie rich and modest, but asserted by a simple pin—
[They will say: “But how his arms and legs are thin!”]
Do I dare
Disturb the universe?
In a minute there is time
For decisions and revisions which a minute will reverse.

For I have known them all already, known them all:—
Have known the evenings, mornings, afternoons,
I have measured out my life with coffee spoons;
I know the voices dying with a dying fall
Beneath the music from a farther room.
So how should I presume?

And I have known the eyes already, known them all—
The eyes that fix you in a formulated phrase,
And when I am formulated, sprawling on a pin,
When I am pinned and wriggling on the wall,
Then how should I begin
To spit out all the butt-ends of my days and ways?
And how should I presume?

And I have known the arms already, known them all—
Arms that are braceleted and white and bare
[But in the lamplight, downed with light brown hair!]
It is perfume from a dress
That makes me so digress?
Arms that lie along a table, or wrap about a shawl.
And should I then presume?
And how should I begin?
. . . . .
Shall I say, I have gone at dusk through narrow streets
And watched the smoke that rises from the pipes
Of lonely men in shirt-sleeves, leaning out of windows?…

I should have been a pair of ragged claws
Scuttling across the floors of silent seas.
. . . . .
And the afternoon, the evening, sleeps so peacefully!
Smoothed by long fingers,
Asleep … tired … or it malingers,
Stretched on the floor, here beside you and me.
Should I, after tea and cakes and ices,
Have the strength to force the moment to its crisis?
But though I have wept and fasted, wept and prayed,
Though I have seen my head [grown slightly bald] brought in upon a platter,
I am no prophet—and here’s no great matter;
I have seen the moment of my greatness flicker,
And I have seen the eternal Footman hold my coat, and snicker,
And in short, I was afraid.

And would it have been worth it, after all,
After the cups, the marmalade, the tea,
Among the porcelain, among some talk of you and me,
Would it have been worth while,
To have bitten off the matter with a smile,
To have squeezed the universe into a ball
To roll it toward some overwhelming question,
To say: “I am Lazarus, come from the dead,
Come back to tell you all, I shall tell you all”—
If one, settling a pillow by her head,
Should say: “That is not what I meant at all.
That is not it, at all.”

And would it have been worth it, after all,
Would it have been worth while,
After the sunsets and the dooryards and the sprinkled streets,
After the novels, after the teacups, after the skirts that trail along the floor—
And this, and so much more?—
It is impossible to say just what I mean!
But as if a magic lantern threw the nerves in patterns on a screen:
Would it have been worth while
If one, settling a pillow or throwing off a shawl,
And turning toward the window, should say:
“That is not it at all,
That is not what I meant, at all.”
. . . . .
No! I am not Prince Hamlet, nor was meant to be;
Am an attendant lord, one that will do
To swell a progress, start a scene or two,
Advise the prince; no doubt, an easy tool,
Deferential, glad to be of use,
Politic, cautious, and meticulous;
Full of high sentence, but a bit obtuse;
At times, indeed, almost ridiculous—
Almost, at times, the Fool.

I grow old … I grow old …
I shall wear the bottoms of my trousers rolled.

Shall I part my hair behind? Do I dare to eat a peach?
I shall wear white flannel trousers, and walk upon the beach.
I have heard the mermaids singing, each to each.

I do not think that they will sing to me.

I have seen them riding seaward on the waves
Combing the white hair of the waves blown back
When the wind blows the water white and black.

We have lingered in the chambers of the sea
By sea-girls wreathed with seaweed red and brown
Till human voices wake us, and we drown.

By T.S. Eliot

--






To T.S. Eliot:

Blog EntryJan 7, '10 7:21 PM
for everyone


Pemalu apa pamali

Tukang palu

dan Pak Mali

apa berdua dua

di tengah kebun

keringat ingat

istri dan anak di batu sangkar

tak tahu yang

sedang dua dua

diam diam,

si Tukang palu dan Pak Mali

 

 

 


NoteGuestbook
   
acorbusie wrote on Jul 28, '11
Hope you have a great day, and a blessed year. Happy birthday .. :)
morningdhew wrote on Jan 19, '11
baik juga mbak... :)
gulaligilaluli wrote on Jan 11, '11
mbak uliiiiiiil.. apa kabar?
baik.... kamu gimana?
morningdhew wrote on Dec 27, '10
mbak uliiiiiiil.. apa kabar?
vitarlenology wrote on Dec 22, '10
hai ulil... thanks udah add aku.. salam kenal ya.. :)
tokoanekakreatif wrote on Dec 21, '10
Thanks dah visit ya... Next give comment ya...
gulaligilaluli wrote on Aug 1, '10
met ultah ... panjang umur n makin sukses. Amien
terimakasih adie
adietoro wrote on Jul 28, '10
met ultah ... panjang umur n makin sukses. Amien
defe wrote on Apr 8, '10
Halo..salam kenal...:)
250046 wrote on Apr 3, '10
NEW ARRIVAL DRESS, MINI DRESS,ATASAN,DLL... MAMPIR YUK...
THANKS:)
gulaligilaluli wrote on Aug 6, '09
terimakasiiiih
novietatourisia wrote on Aug 6, '09
Happy (super) belated birthday :)
thedyingsirens wrote on Jul 29, '09
slamat bday!!!
haorits wrote on Jul 29, '09
uliiiiiil...thx makan siangnya ya...selamaaaaaat...
superm3n wrote on Jul 28, '09
hepi bestdeeyy..
vanillaniks wrote on Jul 28, '09
darliiiiiiiiiiinngggg...

Hepi bday to youuuuu... met ultah.. muaahhh..
<iipsmiley><iipsmiley>
idiotsupreme wrote on Jul 28, '09
Nambah Nih Yeeeeeeee :p Selamat ya bu :D
ayoecoemi wrote on Jun 28, '09
UliiiiiiiiiiiiiL... I AM your stepdaughter!!! u-uh...
omen43 wrote on Jun 10, '09
menarik isi rumahnya.... met kenal..
wira186 wrote on Apr 20, '09
Apakabar Ulil.... makasih dah d appv ya.... salam